TINJAUAN FISIOGRAFI GUNUNG KIDUL DAN PARANTRITIS


Luas daerah Istimewa Yogyakarta adalah 3.185,80 km2. Wilayah DIY ini berada di bagian tengah Pulau Jawa, termasuk zone tengah bagian selatan dari formasi geologi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara astronomi, daerah ini terletak di antara 7033’LS – 8012’LS . Secara administratif, keseluruhan wilayah tersebut berbatasan dengan :

  • Sebelah barat laut : Kabupaten Magelang

  • Sebelah timur : Kabupaten Klaten

  • Sebelah tenggara : Kabupaten Wonogiri

  • Sebelah selatan : Samudra Indonesia

  • Sebelah barat : KabupatenPurworejo.

Terbagi dalam lima wilayah administratif daerah Tingkat II, yaitu :

  • Kotamadia Yogyakarta dengan luas 32,5 km2

  • Kabupaten Bantul dengan luas 506,85 km2

  • Kabupaten Kulonprogo dengan luas 586,27 km2

  • Kabupaten Gunungkidul dengan luas 1.485,36 km2

  • Kabupaten Sleman dengan luas 574,82 km2

  1. GEOMORFOLOGI

Secara geografis, wilayah DIY tersusun atas empat satuan, yaitu Pegunungan Selatan, Gunung api Merapi, dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulonprogo, dan Pegunungan Kulonprogo dan dataran rendah selatan. Secara geomorfologis, Propinsi DIY terdiri dari 6 kelompok satuan bentuk lahan utama, yaitu bentuk marin dan eolin, fluvial, struktural-denudasional, solusional, vulkanik, dan denudasional. Jika menurut keadaan geomorfologi yang terbentuk oleh faktor endogen dan eksogen, maka Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 6 satuan geomorfologi, yaitu : Satuan Dataran ; Satuan Perbukitan Rendah Satuan Perbukitan Sedang ; Satuan Perbukitan Tinggi (Pegunungan) ; Satuan Kaki Lereng Gunung Merapi ; Satuan Tubuh Gunung Merapi.

Secara fisiografi daerah ini terbagi menjadi:

  • Gunung Api Merapi dan lereng gunung api, terletak di bagian utara DIY pada ketinggian ± 500 m hingga ± 2.911 m, dengan susunan material dari endapan aktivitas Gunung Api Merapi.

  • Dataran Aluvial, terletak di bagian tengah membentang ke selatan DIY hingga Samudra Indonesia. Wilayah ini mempunyai topografi datar-hampir datar, sehingga merupakan lahan yang baik untuk permukiman dan pertanian.

  • Pegunungan Kulon Progo yang terletak di bagian barat DIY dengan batas bagian timur adalah lembah progo dan bagian selatan dibatasi oleh dataran aluvial pantai. Wilayah ini mempunyai lereng curam-hingga sangat curam sehingga proses erosi dan longsor sering terjadi dan perlu tindakan konservasi tanah.

  • Dataran Tinggi Gunungkidul, yang meliputi bagian tenggara DIY. Bagian utara daerah ini dibatasi oleh pegunungan Batur Agung dengan garis yang terjal dan memanjang. Bagian tengah merupakan ledok Wonosari dengan topografi datar bergelombang dan pada bagian selatan merupakan perbukitan karst yang disebut Gunung Sewu. Lereng perbukitan karst tersebut curam dan merupakan lahan kritis.

  1. STRATIGRAFI

Urutan litostratigrafi daerah penelitian dimuali dari batuan-batuan yang palingtua adalah dari Formasi Semilir, yang terdiri dari perselingan breksi tufa, breksi betugamping, tufa dasit, tufa andesit serta batulempung tufaan. Formasi Semilir bersilang jari di bawah permukaan dengan batugamping, batupasir napalan dan napal dari Formasi Sentolo. Diatas Formasi Semilir diendapkan secara selaras breksi andesit, batupasir, breksi batulempung dan batupasir dari Formasi Nglanggran. Di atas Formasi Ngalangran diendapkan secara tidak selaras setempat-setempat batuan-batuan dari formasi Sambipitu,yang tersiri dari perselingan batupasir dan serpih, kadang-kadang banyak dijumpai batulanau, batulempung dan batulempung krikilan. Diatas batuan-batuan ini diendapkan secara selaras batuan-batuan dari Formasi Oyo yang terdiri dari kalkarenit, kalsirudit dan napal. Formasi-formasi tersebut mempunyai umur Miosen Bawah bagian akhir sampai Miosen Atas bagian akhir. Diatas batuan-batuan Tersier tersebut secara tidak selaras diendapkan aluvial yang berumur dengan endapan vuklanik Merapi muda. Endapan-endapan tersebut dari pasir lanauan, pasir kerikilan, lanau dan lempung yang merupakan endapan pada sistem sungai. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah sesar geser dan sesar normal. Struktur kekar berkembang pada batuan-batuan yang berumur Tersier.

Kondisi Geologi, berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta (Wartono Raharjo dkk., 1995) ini terdiri dari beberapa satuan batuan yaitu:

    1. Endapan Permukaan Aluvium (Qa) : Koluvium (Qc), batuan Vulkanik . Pasir Koluvium (Qc); Terdiri dari pasir, lempung, lanau dan kerikil. Formasi ini didominasi oleh pasir. Pasir berwarna coklat kehitaman, berukuran halus-kasar, gradasi sedang. Secara umum di permukaan, pasir bersifat agak padat.

    2. Endapan Kerucut Abu (Qcc) :Kubah Lava, Leleran Puncak dan Leleran Lereng (Qdf) . Pasir Tufa Endapan Kerucut Abu (Qcc); Terdiri dari tufa dan breksi tufa.

Tufa umumnya melapuk sedang hingga kuat, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur.

Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen tufa dan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh tufa dengan kepadatan umumnya sedang. Kubah Lava G. Merbabu, Leleran Lereng (Qdf); Terdiri dari leleran lava yang bersusunan andesit dari G. Merbabu pada lereng selatan. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir lanauan, abu-abu kecoklatan, ketebalan rata-rata 1,5 m.

    1. Endapan Vulkanik : G. Merbabu (Qme) .Breksi Lahar dan LavaGunungapi Merbabu (Qme); Terdiri dari breksi lahar dan lava yang bersusunan andesit.

Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir lanauan, coklat kehitaman, agak padat, ketebalan rata-rata 1-1,5 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,714, gn=1,542 g/cm3, wn=31,95%, grup simbol SM, c=0,04 kg/cm2, f=31,49o.

    1. Endapan G. Sumbing Muda (Qsm) .Pasir Tufa Gunung Sumbing Muda (Qsm); Terdiri dari pasir tufaan, tuf pasiran dan breksi tufa.

Pasir tufaan umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar kerikilan. Pasir sedang dan pasir halus kerikilan bersifat lepas dan mudah hancur.

Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh pasir tufa dengan kekeraasan umumnya sedang di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 10 – 45 kg/cm2 . Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir halus, coklat kehitaman, agak padat hingga lepas, ketebalan berkisar antara 1 hingga 1,5 m.

    1. Endapan G. Sumbing Tua (Qsmo) ; Dasit (d). Breksi Endapan Gunung Sembing Tua (Qsmo); Terdiri dari breksi andesit, aglomerat dan tufa. Breksi andesit umumnya melapuk sedang berwarna kuning kecoklatan, komponen batuan andesitik (4 – 45 cm) agak segar, menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur.

Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna putih keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-30 cm) terkungkung dalam masadasar pasir kasar, agak padat. Tufa umumnya melapuk sedang hingga kuat, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat kehitaman, agak padat hingga lepas, ketebalan berkisar antara 1 hingga 1,5 m.

Lava Dasit (d); Terdiri dari lava dasit-andesit yang berupa kubah lava dan leleran. Lava andesit umumnya melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava dengan kekerasan umumnya sangat keras. Tanah penutup umumnya berupa lanau pasiran berkerikil, coklat kemerahan, teguh-kaku, ketebalan rata-rata 1 m.

    1. Endapan Vulkanik Merapi Muda (Qmi). Breksi Lahar Endapan Longsoran Merapi (na); Terdiri dari leleran breksi lahar dari Gunung Merapi. Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi lahar yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras.

Pasir Tufa Endapan Vulkanik Merapi Muda (Qmi); Terdiri dari pasir tufa, abu, aglomerat dan leleran lava tak terpisahkan.

Pasir tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar kerikilan. Pasir sedang dan pasir halus kerikilan bersifat lepas dan mudah hancur.

Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna coklat keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-20 cm), masa dasar pasir kasar, agak padat.

Leleran lava umumnya bersifat andesitik, melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh pasir tufa dengan kekeraasan umumnya sedang di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-45 kg/cm2 (bagian selatan) dan antara 20-145 kg/cm2 (bagian tengah). Tanah penutup umumnya di bagian selatan berupa lanau pasiran, coklat kelabu, lunak, plastisitas sedang, ketebalan antara 0,5 hingga 1,3 m, sedangkan di bagian tengah berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat, agak padat hingga lepas.

    1. Endapan Vulkanik Merapi Tua (Qmo), Breksi Vulkanik (Qb), Breksi Vulkanika Endapan Gunungapi Merapi Tua (Qmo); Terdiri dari breksi vulkanik, aglomerat dan lava yang bersusunan andesit.

Breksi vulkanik umumnya melapuk sedang, berwarna coklat kehitaman, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

Aglomerat umumnya melapuk sedang, berwarna kecoklatan , agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-30 cm) terkungkung dalam masadasar pasir kasar, agak padat.

Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi vulkanik yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir sedang hingga pasir lanauan, abu-abu kecoklatan, ketebalan rata-rata 1m.

Breksi Vulkanik (Qb); Terdiri dari breksi yang bersifat andesitik, lava, batupasir tufaan dan breksi lahar. Breksi andesit umumnya melapuk sedang berwarna kuning kecoklatan, komponen batuan andesitik (4 – 45 cm) agak segar, menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur. Lava andesit umumnya melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa. Batupasir tufaan umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar. Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

    1. Endapan Tersier : Formasi Sentolo (Tmps), Formasi Jonggrangan (Tmj), Formasi Kebobutak (Tmok), Formasi Nanggulan (Teon), Formasi Wonosari (Tmpw), Formasi Kepek (Tmpk), Formasi Sambipitu (Tms), Formasi Nglanggran (Tmn) Formasi Semilir (Tmse),batuanTerobosan Andesit (a) ; Dasit (da) ; Diorit (dr).

  • Batugamping Formasi Sentolo (Tmps); Terdiri dari batugamping dan batupasir napalan.

Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit.

Batupasir napalan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan umumnya sedang. Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-25 kg/cm2. Tanah penutup umumnya berupa lempung, coklat kehitaman, lunak, ketebalan tanah penutup sekitar 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,693, gn=1,499 g/cm3, wn=26,12%, grup simbol CH, c=0,1 kg/cm2, f=28,81o.

  • Konglomerat Formasi Jonggrangan (Tmj); Terdiri dari konglomerat, napal tufaan dan batupasir gampingan.

Konglomerat umumnya melapuk ringan hingga sedang, berwarna coklat keabuan, terdiri dari masadasar pasir sedang, agak padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30 cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung.

Napal tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu kecoklatan, padu.

Batupasir gampingan umumnya melapuk sedang, abu-putih kecoklatan, padu, ukran butir sedang hingga kasar.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh konglomerat dengan kekerasan umumnya keras hingga sangat keras.

  • Breksi Formasi Kebobutak (Tmok); Terdiri dari breksi, tufa, dan aglomerat.

Breksi umumnya melapuk sedang berwarna merah kecoklatan, komponen batuan andesitik (5-30 cm) agak segar menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur.

Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu.

Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna putih keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-20 cm) tertanam dalam masadasar pasir kasar, agak padat. Batu lanau umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan sebagian menyerpih dan mudah hancur.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi dengan kekerasan umumnya keras. Dibeberapa tempat nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-40 kg/cm2. Tanah penutup umumnya berupa lanau, coklat kehitaman, lunak, plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1,5 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,716, gn=1,33 g/cm3, wn=28,51%, grup simbol MH, c=0,14 kg/cm2, f=26,79o.

  • Batupasir Formasi Nanggulan (Teon); Terdiri dari batupasir yang bersisipan dengan lignit dan napal pasiran.

Batupasir umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh batupasir dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir, coklat keabuan, agak padat hingga lepas, ketebalan rata-rata 1 meter.

  • Batugamping Formasi Wonosari (Tmpw); Terdiri dari batugamping dan batupasir tufaan.

Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit.

Batupasir tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan umumnya sedang. Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak, ketebalan rata-rata 1,5 m.

  • Napal Formasi Kepek (Tmpk); Terdiri dari napal dan batugamping berlapis.

Napal umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit. Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu keputihan, berlapis, padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh napal dengan kekerasan umumnya sedang. Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak, ketebalan rata-rata 1 m.

  • Tufa Formasi Sambipitu (Tms); Terdiri dari perselang-selingan lapisan tufa, serpih, batulanau dan konglomerat.

Tufa umumnya melapuk ringan, berwarna kuning keabuan, ukuran butir pasir halus, padu.

Serpih umumnya melapuk ringan, putih kelabu, padu.

Batulanau umumnya sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, sebagian menyerpih.

Konglomerat umumnya melapuk ringan, berwarna coklat keabuan, terdiri dari masadasar pasir sedang, sangat padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30 cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh tufa dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa lempung, coklat kehitaman, lunak plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,758, gn=1,683 g/cm3, wn=29,78%, grup simbol CH, c=0,14 kg/cm2, f=21,8o.

  • Breksi Vulkanik Formasi Nglanggran (Tmn); Terdiri dari breksi vulkanik, breksi aliran, aglomerat, lava dan tufa.

Breksi vulkanik umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari tufa dan batuan andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut tanggung, agak padu.

Breksi aliran umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu.

Aglomerat umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, padu sebagian mudah hancur, komponen batuan andesitik, agak segar, menyudut tanggung (10-25 cm) tertanam dalam masadasar pasir sedang-kasar, padat.

Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, berukuran butir pasir halus, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi vulkanik yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat kehitaman, padat hingga agak lepas, ketebalan berkisar antara 1-2 m.

  • Breksi Tufa Formasi Semilir (Tmse); Terdiri dari breksi tufa, tufa dan batulempung tufaan.

Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari tufa dan batuan andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut tanggung, agak padu dan sebagian mudah hancur.

Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu.

Batu lempung tufaan umumnya melapuk sedang berwarna putih kecoklatan, agak padu.

Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi tufa dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa lanau , merah kecoklatan, teguh, plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,646, gn=1,606 g/cm3, wn=34,36%, grup simbol MH, c=0,14 kg/cm2, f=28,37o.

  • Andesit (a); Merupakan rangkaian intrusi batuan andesit yang tersingkap jelas pada puncak-puncak perbukitan G. Telu dan G. Kukusan di bagian selatan hingga G. Pencu di bagian utara. Andesit berwarna abu-abu kehijauan, berkomposisi antara hipersten hingga andesit-augit-hornblenda dan trakiandesit. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil pelapukan berupa lanau, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak.

  • Dasit (da); Merupakan intrusi batuan beku dasit yang menerobos andesit. Hasil pelapukan berupa lanau lempingan, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak.

  • Diorit (dr); Merupakan intrusi batuan beku diorit hornblenda. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil pelapukan berupa lanau lempungan, berwarna abu-abu kecoklatan, palstisitas sedang, lunak.

  1. STRUKTUR GEOLOGI

Rekaman proses tektonisme sangat banyak dijumpai di dataran Yogyakarta. Diawali dari data sesar akibat pengangkatan Pegunungan Kulon Progo dan Selatan, sesar-sesar di sepanjang dataran gunung api terbentuk belakangan serta sesar-sesar minor oleh gempa-gempa tektonik yang berlangsung pada (Anonim, 2006):

  • 10 Juni 1867, episentrum pada 8,7 LS & 110,8

  • BT; 8-9 Modifi ed Mercalli Intensity (MMI)

  • 27 Sept. 1937, episentrum pada 8,7 LS & 108

  • BT; 8 MMI

  • 23 Juli 1943, episentrum pada 8,6 LS & 109,9

  • BT; 8 MMI

  • 13 Maret 1981, episentrum pada 8,7 LS &

  • 110,4 BT; 5,6 SR (Skala Richter)

Sesar-sesar minor juga dijumpai pada tebingtebing galian candi. Sesar tersebut didukung pula oleh kondisi keruntuhan candi yang cenderung runtuh vertikal (Jawa: ambleg), seperti di Candi Kedulan dan Plaosan Kidul. Dasar Candi Kedulan sebelum direnovasi menunjukkan penampakan bergelombang, sedangkan pada batu-batu di dasar Candi Plaosan Kidul (lantai halaman) terjadi perbedaan relief, miring ke barat. Sebaran candi-candi yang diduga rusak oleh proses-proses geologi (pengendapan batuan gunung api dan gempa bumi).

3 thoughts on “TINJAUAN FISIOGRAFI GUNUNG KIDUL DAN PARANTRITIS

  1. saya mau tanya mas, dimana saya bisa menemukan artikel mengenai garis pantai Gunung Kidul pada kurun waktu 10.000 – 2.000 SM? harap dibalas ke email saya. terima kasih.

  2. salam kenal, mohon diberitahu email panjenengan dan saya mohon untuk diberitahu / diiformasikan tentang kandungan batu-batuan di daerah DIY, al: posfat, kuarsa silikon dll, terima kasih atas informasinya & perkenalannya. GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s