TINJAUAN FISIOGRAFI DATARAN TINGGI BANDUNG


Daerah Bandung merupakan dataran tinggi (+ 700 m dpl.) berhawa sejuk yang dahulu terkenal dengan sebutan Paris van Java yang dirancang sebagai kota pemerintahan dan pendidikan. Apabila dikaitkan dengan jajaran pegunungan di sekitarnya, maka dataran Bandung itu merupakan cekungan besar yang secara geologi lebih dikenal sebagai Cekungan Bandung (Bandung Basin).
A. GEOMORFOLOGI
Secara fisik, bentang alam wilayah Bandung dan sekitarnya yang termasuk ke dalam Cekungan Bandung, merupakan cekungan berbentuk lonjong (elips) memanjang berarah timur tenggara – barat barat laut. Cekungan Bandung ini dimulai dari daerah Nagreg di sebelah timur sampai ke Padalarang di sebelah ba-rat dengan jarak horizontal lebih kurang 60 km. Sementara itu, jarak utara – selatan mempunyai lebar sekitar 40 km.
Cekungan Bandung ini hampir dikelilingi oleh jajaran kerucut gunung api berumur Kuarter, di antaranya:
• Batas utara terdiri atas kompleks Gunung Burangrang – Sunda – Tangkubanparahu, Gunung Bukittunggul, tinggian batuan gunung api Cupunagara, Gunung Manglayang, dan Gunung Tampomas.
• Batas timur berupa tinggian batuan gunung api Bukitjarian, Gunung Karengseng – Gunung Kareumbi, kompleks batuan gunung api Nagreg sampai dengan Gunung Mandalawangi.
• Batas selatan terdiri dari kompleks gunung api Kamojang, Gunung Malabar, Gunung Patuha dan Gunung Kendeng.
• Batas barat, Cekungan Bandung dibatasi oleh batuan gunung api berumur Tersier dan batugamping yang termasuk ke dalam Formasi Rajamandala (Sudjatmiko, 1972).

Cekungan Bandung sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian timur, tengah, dan barat .
• Cekungan Bandung bagian timur dimulai dari dataran Nagreg sampai dengan Cicalengka;
• Bagian tengah membentang dari Cicalengka hingga Cimahi – kompleks perbukitan Gunung Lagadar,
• Cekungan bagian barat terletak di antara Cimahi – Batujajar hingga Cililin dan Waduk Saguling.
Peneliti terdahulu (Dam, 1994) menyebut Cekungan Bandung hanya untuk kawasan bagian tengah.


B. Stratigrafi
Stratigrafi daerah Bandung merupakan hasil kegiatan gunungapi mulai dari Tersier Awal hingga Kuarter, selain itu tersingkap batuan sedimen non gunungapi.
• Formasi Rajamandala
Secara geologi, satu-satunya batuan sedimen non gunungapi yang tersingkap di sebelah barat Cekungan Bandung adalah Formasi Rajamandala (Sudjatmiko, 1972), yang tersusun atas batugamping, batulempung, napal, dan batupasir kuarsa yang berumur Oligosen.

• Formasi Jampang dan Formasi Citarum
Secara geokronologi, batuan gunung api teridentifikasi sejak umur sekitar 59 juta tahun yang lalu (58,999±1,94 jtl., Paleosen Tengah) dan 36,9 jtl. (36,881±3,96 jtl., Eosen Atas), yang ditemukan di daerah Cupunagara, sebelah timur Gunung Tangkubanparahu (Bronto drr., 2004a, b). Batuan gunung api berumur Miosen Tengah (12,0±0,10 jtl.) yang dijumpai dari data pemboran panas bumi, dipandang sebagai batuan dasar Gunung Wayang (Pertamina, 1988). Batuan gunung api ini berumur Neogen Awal (Sudjatmiko, 1972).
• Formasi Beser
Selanjutnya batuan gunung api berumur Pliosen (4,36±0,04 jtl. – 2,62±0,03 jtl.) dijumpai di kompleks Gunung Malabar – Papandayan (Katili & Sudradjat, 1984), Selacau dan Paseban di selatan Cimahi, Cipicung dan Kromong di Banjaran – Ciparay, Bandung Selatan (Sunardi & Koesoemadinata, 1999). Menurut Alzwar drr. (1992) batuan gunung api di Gunung Kromong dan Soreang tersebut termasuk Formasi Beser.
Dam (1994) berpendapat bahwa pengendapan di dalam Cekungan Bandung sendiri yang dimulai sekitar 126.000 tahun lalu, berupa batuan klastika gunung api dan sedimen danau. Analisis umur absolut paleosol di bawahnya yang diperkirakan sebagai batuan dasar Cekungan Bandung memberikan umur rata-rata 135.000 tahun yang lalu. Di antara paleosol dan batuan sedimen terbawah Cekungan Bandung terdapat banyak lapisan tefra atau abu gunung api. Hal itu mengindikasikan adanya kegiatan vulkanisme yang mengawali pembentukan Danau Bandung.
Selanjutnya peneliti tersebut menyatakan bahwa Danau Bandung terbentuk hingga empat tahap. Danau Bandung tahap empat terbentuk sekitar 20.000 tahun yang lalu, namun sisa-sisa cekungan masih ada hingga 16.000 tahun yang lalu. Pada saat ini daerah itu merupakan bagian terendah Cekungan Bandung dan sering terlanda banjir pada musim penghujan.
Di wilayah Bandung Utara, batuan gunung api berumur Kuarter dibagi menjadi batuan gunung api Kuarter Tua, batuan gunung api muda tak teruraikan dan batuan gunung api muda Tangkubanparahu (Silitonga, 1973). Endapan aliran piroklastika yang diperkirakan sebagai hasil letusan Kaldera Sunda dan dikenal umum sebagai bahan galian tras Lembang mempunyai umur 38.300 tahun (Hadisantono, 1988).
Di Bandung Selatan, batuan gunung api Kuarter dibagi menjadi banyak satuan, antara lain batuan gunung api Guntur, Pangkalan dan Kendang, batuan gunung api Mandalawangi, dan batuan gunung api Malabar (Alzwar drr., 1992).
Bandung timur, mulai dari daerah Sumedang, Nagreg hingga Garut, seluruhnya tersusun oleh batuan gunung api Kuarter (Silitonga, 1973; Alzwar drr., 1992). Bentuk kerucut gunung api yang masih cukup jelas antara lain Gunung Tampomas, Bukit Jarian, Gunung Kareumbi (Gunung Karenceng), dan Gunung Mandalawangi, sedangkan gunung api yang sudah tereosi lanjut termasuk tinggian batuan gunung api di sebelah timur Gunung Kareumbi sampai dengan Nagreg dimasukkan ke dalam satuan Batuan Gunung Api Tak Teruraikan.
1) Stratigrafi gunungapi
Dari analisis citra landsat, penelitian langsung di lapangan dan penentuan umur radiometri dapat diidentifi kasi kerucut gunung api tertua sampai termuda yang mencerminkan stratigrafi gunung api tersebut. Pembagian satuan batuan mengacu kepada stratigrafi gunung api di dalam Sandi Stratigrafi Indonesia (Martodjojo dan Djuheni, 1996) dengan mengetengahkan sumber asal erupsi gunung api. Parameter komposisi litologi tidak cukup kuat menjadi pemisah satuan batuan, karena di dalam kegiatan vulkanisme suatu sumber erupsi gunung api dapat menghasilkan komposisi berbeda. Sebaliknya, pada sumber erupsi dan umur berbeda dapat menghasilkan komposisi batuan yang sama. Berdasarkan sumber erupsinya, batuan gunung api di daerah Bandung Selatan dapat dibagi menjadi sembilan satuan batuan ditambah satuan batuan Piroklastika Pangalengan (PP) dan Endapan Aluvium.

Seluruh satuan batuan dan endapan tersebut menumpang di atas batuan gunung api Miosen (MiV, 12,0 ± 0,1 jtl.) yang berada di bawah permukaan (Pertamina, 1988; vide Soeria- Atmadja drr., 1994).



Batuan gunung api tertua di daerah Bandung Selatan ini didapatkan berdasarkan data pemboran Geotermal di bawah Gunung Wayang berupa lava andesit piroksen kapur alkali. Ke sembilan satuan batuan gunung api tersebut adalah:
• Satuan Batuan Gunung Api Soreang (SV),
• Satuan Batuan Gunung Api Baleendah (BV),
• Satuan Batuan Gunung Api Pangalengan(PV),
• Satuan Batuan Gunung Api Tanjaknangsi (TV),
• Satuan Batuan Gunung Api Kuda (KV),
• Satuan Batuan Gunung Api Kendang (KdV),
• Satuan Batuan Gunung Api Dogdog (DV),
• Satuan Batuan Gunung Api Wayang – Windu (WV),
• Satuan Batuan Gunung Api Malabar (MV).

1. Satuan Batuan Gunung Api Soreang (SV)
Satuan batuan ini tersebar di sudut barat laut daerah penelitian, atau di barat laut kota Soreang yang merupakan ibu kota Kabupaten Bandung. Dari citra landsat kawasan Gunung Soreang berbentuk membulat, sehingga puncaknya dinamakan Gunung Buleud, dan mempunyai relief paling kasar dibandingkan dengan kawasan gunung api yang lain. Di bagian tengah terdapat morfologi cekungan melingkar yang diperkirakan sebagai fasies sentral gunung api purba tersebut. Batuan pada fasies proksimal membentuk punggungan perbukitan yang melandai ke arah fasies medial, tetapi berlereng curam menuju fasies sentral.

Agak terpisah di tepi timur laut terdapat tinggian yang juga mempunyai bentuk bukaan ke arah timur menghadap ke Dataran Bandung. Bentuk tinggian dan bukaan tersebut diperkirakan sebagai kerucut gunung api kedua di dalam kawasan Gunung Soreang.

Batuan beku ini berwarna abu-abu terang, sangat keras, bertekstur porfi roafanitik, berstruktur massif sampai berlubang halus, mengandung Fe (nokris plagioklas, horenblenda, dan kuarsa di dalam massa dasar afanitik). Berdasarkan hasil penelitian Sunardi dan Koesoemadinata (1999) di Selacau dan Paseban yang berada di sebelah utara kawasan Gunung Soreang, maka gunung api purba tersebut diperkirakan aktif pada umur Pliosen Bawah atau sekitar 4,0 jtl.
2. Satuan Batuan Gunung Api Baleendah (BV)
Satuan batuan ini terletak di bagian tengah daerah penelitian. Sebaran ke arah utara – selatan berada di wilayah Kecamatan Baleendah dan Kecamatan Arjasari. Ke arah barat dan timur satuan batuan ini melebar ke wilayah Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Ciparay. Secara morfologi satuan batuan ini membentuk perbukitan dengan puncak bernama Gunung Geulis (1154 m) di bagian barat, Gunung Pipisan (1071 m) di bagian tengah, dan Gunung Bukitcula (1073 m) di bagian timur.
Berdasar analisis morfostratigrafi , terdapat tiga fase gunung api purba. Fase pertama adalah kerucut gunung api tertua yang terletak di bagian timur dengan puncak sekarang Gunung Bukitcula yang berumur 3,20 juta tahun (Sunardi & Koesoemadinata, 1999).
Fase kedua merupakan kerucut gunung api di sebelah barat dengan puncak Gunung Geulis dan Gunung Pipisan yang berumur 2,80 juta tahun. Fase ketiga adalah kerucut gunung api di sebelah selatan-tenggara yang membentuk morfologi seperti bulan sabit membuka ke barat daya. Puncak sisa gunung api purba fase ketiga ini adalah Gunung Tikukur (1020 m).
Tubuh bagian selatan kompleks Gunung Baleendah ini sudah terpotong oleh sesar dan menjadi blok turun yang kemudian ditutupi oleh batuan gunung api Malabar, namun demikian morfologi fasies proksimal lereng utara Gunung Baleendah ini masih terlihat cukup jelas.

Satuan batuan ini utamanya tersusun oleh perlapisan aliran lava andesit dengan sisipan breksi piroklastika. Secara umum, kedudukan perlapisan batuan miring ke utara seiring melandainya punggungan perbukitan. Lava andesit itu berwarna abu-abu, bertekstur porfiroafanitik, berstruktur masif sampai berlubang halus – sedang.
Komposisi mineral fenokris adalah plagioklas, piroksen, dan horenblenda yang tertanam di dalam massa dasar afanitik. Breksi piroklastika berwarna putih abu-abu lapuk, mengandung bom kerak roti yang tertanam.
3. Satuan Batuan Gunung Api Pangalengan (PV)
Satuan batuan ini tersebar di barat laut, selatan, dan tenggara Dataran Tinggi Pangalengan. Di bagian barat laut Gunung Pangalengan purba meninggalkan dua puncak, yakni Gunung Tilu (2056 m) dan Gunung Lamajang (1758 m), sedangkan salah satu puncak di bagian tenggara adalah Gunung Kancana (2199 m). Bentang alam Gunung Tilu dan Gunung Lamajang melandai ke barat laut tetapi membentuk gawir terjal ke tenggara atau menghadap ke Dataran Pangalengan dan Situ Cileunca.

Sebaliknya, Gunung Kancana (2199 m) melandai ke tenggara dan membentuk lereng terjal ke utara dan barat laut menghadap ke Dataran Pangalengan dan Situ Cileunca. Penampakan itu menunjukkan fasies proksimal kerucut Gunung Pangalengan purba yang tersusun terutama oleh aliran lava basal (lokasi 7o 09’ 28,9” LS – 107o 32’ 56,0” BT ).
Jarak antara Gunung Tilu-Lamajang di sebelah barat laut hingga Gunung Kancana di bagian tenggara sekitar 20 km. Diperkirakan Dataran Pangalengan dan Situ Cileunca sekarang ini merupakan bekas Kaldera Pangalengan yang meletus besar setelah fase konstruksi kerucut komposit Gunung Pangalengan. Kaldera Pangalengan kemudian ditutupi oleh produk gunung api lebih muda di sekelilingnya, termasuk munculnya Gunung Windu di bagian tengah dan Gunung Malabar di tepi utara. Perlapisan aliran lava Gunung Baleendah yang mencirikan fasies proksimal, lokasi Desa Baleendah.
Breksi piroklastika Gunung Baleendah, lokasi Desa Baleendah. Gunung Tilu dan Gunung Lamajang sebagai sisa tubuh (fasies proksimal) Gunung Purba Pangalengan bagian barat laut yang sebagian telah ditutupi oleh batuan Gunung Kuda. Sementara Gunung Kancana sebagai morfologi sisa Gunung Purba Pangalengan sebelah tenggara mempunyai kemiringan melandai ke tenggara dan berlereng terjal menghadap ke barat laut atau ke Dataran Tinggi Pangalengan dan Situ Cileunca.
4. Satuan Batuan Gunung Api Tanjaknangsi (TV)
Gunung Tanjaknangsi terletak di sebelah barat laut Gunung Tilu – Lamajang dan ke arat laut berbatasan dengan G. Soreang. Selain G. Tanjaknangsi sendiri (1505 m), di sebelah selatan dan utaranya terdapat dua puncak, masing-masing Gunung Tikukur (1399 m) dan Gunung Bubut (1341 m). Celah lebar di bagian puncak yang membuka ke timur laut dan barat diperkirakan bekas kawah atau fasies pusat gunung api tua ini. Pada fasies proksimal- medial, batuan penyusun terdiri atas aliran lava, breksi piroklastika, batulapili, tuf, dan breksi lahar (lokasi 7o 02’ 41,0” LS – 107o 29’ 57,2” BT,

Secara fisik aliran lava tersebut berupa breksi autoklastika sampai membentuk batuan beku masif. Aliran lava berkomposisi andesit basal, berwarna abu-abu gelap, bertekstur porfi roafanitik, struktur masif sampai berlubang halus – sedang. Fenokris terdiri atas piroksen dan plagioklas yang tertanam di dalam massa dasar afanitik.
Breksi tuf dan tuf lapili merupakan batuan piroklastika yang mengandung fragmen bom dan blok gunung api di dalam matriks abu gunung api. Breksi lahar dicirikan oleh bentuk fragmen menyudut tanggung – membulat tanggung, yang mengambang di dalam matriks, dan terdiri atas aneka bahan. Berdasarkan analisis morfologi gunung api, Gunung Tanjaknangsi muncul pada lereng utara Gunung Pangalengan sehingga gunung api itu diperkirakan sebagai kerucut parasit Gunung Pangalengan.
5. Satuan Batuan Gunung Api Kuda (KV)
Gunung Kuda merupakan sebuah kerucut gunung api yang sangat besar di sebelah barat daerah penelitian. Berdasarkan citra landsat gunung api ini mempunyai kaldera yang membuka ke arah selatan – barat daya. Daerah penelitian hanya mencakup fasies proksimal – medial bagian timur. Bagian ini masuk menjorok atau mengisi Dataran Pangalengan bagian barat, sehingga hal itu menjadi penunjuk bahwa kegiatan Gunung Kuda terjadi setelah pembentukan Kaldera Pangalengan.
Pada umumnya batuan penyusun sudah sangat lapuk menjadi tanah berwarna merah coklat. Batuan segar berupa bongkah (lokasi 7o 12’ 16,1” LS – 107o 31’ 22,5” BT) menunjukkan komposisi andesit basal piroksen. Batuan berwarna abu-abu, bertekstur porfiro afanitik, struktur masif sampai berlubang halus, fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir halus – sedang (1-3 mm) tertanam di dalam massa dasar afanitik.
6. Satuan Batuan Gunung Api Kendang (KdV)
Batuan Gunung Kendang tersebar di bagian timur daerah penelitian atau di sebelah utara Gunung Papandayan. Ada dua puncak dari gunung api ini, yaitu Gunung Kendang (2617 m) di sebelah selatan dan Gunung Guha (2397 m) di sebelah utara. Dari citra landsat, deretan Gunung Guha dan Gunung Kendang membentuk morfologi bulan sabit membuka ke timur.
Perlapisan komposit breksi lahar, tuf lapili, breksi tuf, dan aliran lava yang menunjukkan fasies proksimal- medial lereng-kaki barat laut Gunung Tanjaknangsi, lokasi Desa Sadu, tepi jalan raya Soreang – Ciwidey, hal itu menjadi penunjuk bahwa kegiatan Gunung Kendang terjadi setelah pembentukan Kaldera Pangalengan. Bukaan ke timur menuju Lapangan Geotermal Darajat atau Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Darajat dan Dataran Kabupaten Garut.
Pada umumnya batuan sudah lapuk menjadi tanah merah coklat, sedangkan batuan segar hanya berupa bongkah-bongkah berdiameter 0,5 – 3 m yang tersebar pada lereng barat yang merupakan perkebunan teh. Bongkahbongkah batuan terdiri atas andesit dan andesit basal (lokasi 7o 14’ 00,0” LS – 107o 40’ 42,5” BT dan 7o 13’ 20,3” LS – 107o 40’ 48,2” BT), yang kadang-kadang berstruktur kekar lembar.
Andesit berwarna abu-abu berbintik putih, bertekstur porfi roafanitik, berlubang halus – masif, fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir halus – sedang (1 – 3 mm) di antara massa dasar afanitik. Bongkah andesit basal yang dijumpai di dusun Lodaya kolot berwarna abu-abu gelap berbintik putih, bertekstur porfi roafanitik halus. Fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir halus (1-2 mm) di dalam massa dasar afanitik.
7. Satuan Batuan Gunung Api Dogdog (DV)
Satuan batuan ini tersebar di sebelah utara Gunung Kendang dan di sebelah timur Gunung Malabar. Di bagian tengah terdapat cekungan membuka ke barat yang diperkirakan sebagai bekas kawah gunung api itu atau fasies sentral (Gambar 12).

Lereng luar kerucut gunung api Dogdog memperlihatkan kemiringan melandai masing-masing ke utara dan selatan yang mencerminkan fasies proksimal sampai fasies medial dari gunung api itu. Berdasarkan analisis morfologi gunung api, Gunung Dogdog ini muncul pada lereng utara Gunung Kendang sehingga dapat dipandang sebagai kerucut parasit Gunung Kendang.
Batuan penyusun pada umumnya sudah lapuk kuat menjadi tanah merah coklat. Dari batuan segar yang terdapat di Dusun Perengpojok, Desa Cikawao, Kecamatan Ibun (lokasi 7o 07’ 42,5” LS – 107o 44’ 10,0” BT) diketahui bahwa batuan penyusunnya adalah andesit basal. Batuan tersebut berwarna abuabu gelap, bertekstur porfi roafanitik, berstruktur massif, fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir halus yang tertanam di dalam massa dasar afanitik.
8. Satuan Batuan Gunung Api Wayang – Windu (WV)
Satuan batuan gunung api ini membentuk kerucut perbukitan di tengah-tengah Dataran Pangale-ngan, di sebelah selatan Gunung Malabar. Paling tidak ada tiga puncak gunung berderet dari utara ke selatan, yaitu Gunung Bedil, Gunung Wayang, dan Gunung Windu (Gambar 13). Dari data sekunder (Bogie dan Mackenzie, 1998) diketahui batuan Gunung Wayang berumur 0,49 juta tahun, Gunung Bedil 0,19 juta tahun, dan Gunung Windu 0,10 juta tahun. Dari kenampakan bentang alam Gunung Bedil dan Gunung Wayang membentuk morfologi melandai ke utara, sedangkan Gunung Windu berbentuk kubah.
Berdasarkan data statistik (Ferrari, 1995) lama hidup gunung api komposit berkisar antara 240.000 tahun sampai dengan 1,3 juta tahun, sehingga perbedaan umur batuan menunjukkan kisaran waktu hidup sebuah kerucut gunung api komposit. Dengan demikian, data geomorfologi dan statistik tersebut menunjukkan bahwa ketiga gunung itu merupakan sebuah kerucut gunung api.
Gunung Bedil dan Gunung Wayang merupakan fasies proksimal – medial pada lereng sampai kaki utara, sedangkan Gunung Windu dipandang sebagai fasies pusatnya. Batuan gunung api ini sebagian besar telah mengalami ubahan hidrotermal. Bongkah batuan segar berdiameter 2 – 3 m yang dijumpai di kaki-kaki bukit berkomposisi andesit horenblenda (lokasi 7o 14’ 48,4” LS – 107o 37’ 51,0” BT). Batuan berwarna abu-abu, bertekstur porfi roafanitik, struktur berlubang halus – sedang, fenokris terdiri atas plagioklas, horenblenda, kuarsa (?) yang tertanam di dalam massa dasar afanitik.
9. Satuan Batuan Gunung Api Malabar (MV)
Malabar merupakan sebuah gunung api yang sangat besar di daerah penelitian. Jarak datar kawasan Gunung Malabar ini mempunyai diameter ± 20 km. Gunung api ini juga menjadi batas antara dataran tinggi Bandung (700 m) di sebelah utara dan dataran tinggi Pangalengan (1400 m) di sebelah selatan. Dari citra landsat tampak di puncaknya terdapat kaldera kecil yang membuka ke timur laut dan ke barat daya. Bogie dan Mackenzie (1998) melaporkan bahwa batuan gunung api ini berumur 0,23 juta tahun.
Dari penampakan bentang alam, baik dari citra landsat maupun pemeriksaan di lapangan diketahui bahwa Gunung Puncak Besar di bagian selatan – barat daya merupakan Gunung Malabar Tua. Aktivitas vulkanisme kemudian membentuk Gunung Malabar Muda yang muncul di sebelah utaranya.
Batuan penyusun bervariasi dari basal sampai andesit basal, masing-masing tersingkap di hulu Ci Sangkuy (Gambar 15, lokasi 7o 06’ 32,9” LS – 107o 32’ 51,9” BT) dan lereng barat Gunung Puntang (lokasi 7o 06’ 37,9” LS – 107o 36’ 08,1” BT).
Aliran lava basal di Cisangkuy berwarna abu – abu kehitaman, bertekstur gelas, afanitik sampai porfi ritik sangat halus, berstruktur kekar lembar – masif. Fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir sangat halus (< 1 mm). Andesit basal di lereng Gunung Puntang merupakan bongkah lava berwarna abu-abu gelap, bertekstur porfi roafanitik halus, berstruktur masif – berlubang halus, fenokris terdiri atas plagioklas dan piroksen berbutir halus sedang (1-2 mm) yang tertanam di dalam massa dasar afanitik.
2) Satuan Batuan Piroklastika Pangalengan (PP)
Satuan batuan ini tersebar di dalam Cekungan Pangalengan yang mempunyai diameter lk. 20 km. Batuan pada umumnya masih lepas-lepas, sebagian sudah mengalami pengerjaan ulang. Di bagian bawah dan yang berdekatan dengan Gunung Wayang -Windu batuan piroklastika ini sudah terubah secara hidrotermal.
Batuan berwarna putih abu-abu, kuning kecoklatan sampai lapuk menjadi tanah merah coklat (lokasi 7o 13’ 26,9” LS – 107o 35’ 12,6” BT), berbutir halus di bagian atas. Diperkirakan batuan piroklastika ini terbentuk semenjak pembentukan Kaldera Pangalengan dan ke atasnya merupakan bahan piroklastika yang bersumber dari banyak gunung api lebih muda, termasuk Gunung Papandayan di sebelah tenggara daerah penelitian. Oleh sebab itu kisaran umur satuan batuan sangat panjang, paling tidak sejak Kala Plistosen hingga masa kini.
3) Endapan Aluvium (Al)
Endapan Aluvium merupakan produk pengerjaan ulang yang terutama diendapkan di dalam Cekungan Bandung. Pada aliran hulu Ci Tarum dan Ci Hejo, atau antara Gunung Malabar di sebelah barat dan Gunung Dogdog di sebelah timur, endapan alluvium membentuk kipas besar sampai di Dataran Majalaya. Hal yang sama juga terjadi di hilir Ci Sangkuy, yang dibatasi oleh tinggian Gunung Tanjaknangsi di sebelah barat dan Gunung Malabar di sebelah timur. Endapan aluvium terdiri atas bahan lepas berbutir bongkah sampai lempung yang tersebar di dataran dan lembah sungai. Dataran di tempat aluvium ini diendapkan sekarang menjadi daerah pemukiman dan persawahan yang subur, tetapi pada musim hujan sering terlanda banjir.
C. STRUKTUR GEOLOGI
Penelitian struktur geologi sudah banyak dilakukan para ahli, antara lain Achnan (1998), dan Achnan drr. (2004). Pola kelurusan sesar umumnya berarah barat laut – tenggara, timur laut – barat daya dan sedikit yang berarah utara – selatan. Sesar-sesar berarah timur laut – barat daya mengikuti pola sesar arah Meratus, sesar berarah barat laut – tenggara mengikuti pola sesar arah Sumatera, sementara yang berarah utara – selatan dikontrol oleh sesar pada batuan dasar yang tersusun oleh pluton granit dan batuan malihan (Martodjojo,2003).
Penelitian struktur geologi tersebut tampaknya hanya ditinjau dari aspek tektonika, sehingga masih belum dikaitkan dengan bentuk fisiografi Cekungan Bandung dan jajaran kerucut gunung api yang muncul di tepi cekungan.
Analisis citra landsat menunjukkan bahwa kelurusan pada umumnya berarah tenggara – barat laut dan timur tenggara – barat barat laut. Kelurusan yang diyakini sebagai sesar memotong Kaldera Malabar mengakibatkan bentuk perbukitan terpotong-potong dan membentuk gawir di sekitar Pasir Panjang (lokasi 7o 14’ 25,9” LS – 107o 38’ 51,7” BT dan 7o 14’ 48,4” LS – 107o 37’ 51,0” BT). Kelurusan yang memotong lereng barat laut Gunung Tanjaknangsi menunjukkan adanya kekar sejajar dan intensif pada lokasi 06/SB/13. Sesar yang cukup jelas ditemukan buktinya di lapangan adalah Sesar Tarikolot (lokasi 7o 01’ 56,4” LS – 107o 36’ 28,3” BT), di mana blok selatan relatif turun terhadap blok utara. Sesar Tarikolot ini memotong batuan gunung api purba Baleendah.

About these ads

One thought on “TINJAUAN FISIOGRAFI DATARAN TINGGI BANDUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s